Sabtu, Juni 11, 2016

Toleransi seperti apa yang dimaksud?

  10 comments    
categories: ,
Hi Reader!

Agak gatel juga nih tangan jadinya mau ngetik curahan pendapat saya buat kejadian yang beberapa hari terakhir ini jadi headline di hampir semua media massa dan sosial media. Ya di bulan yang penuh berkah ini beberapa hari yang lalu kita diperlihatkan pemberitaan tentang seorang ibu yang berjualan nasi disiang hari pada bulan Ramadan ini. Siapa sih yang gak terenyuh melihat video penertiban warung makan si ibu oleh satpol PP yang terlihat kasar pada video tersebut?
Jujur saya sangat sedih dan prihatin sekali melihat video penertiban tersebut.
Bahkan ada seseorang demi menunjukkan rasa simpatinya dengan mengajak orang-orang berdonasi untuk ibu itu dengan nominal 10 ribu rupiah, and see kekuatan sosial media berbicara terakhir saya update diberita sudah terkumpul 170an juta, tidak tahu sekarang sudah berapa.
Sayapun ikut mengshare berita tersebut ke facebook saya, tapi saya heran ada saja teman yang berkomentar bahwa itu merupakan donasi yang tidak berguna. Ah sudahlah namanya juga manusia pasti punya pendapat yang berbeda-beda. Bahkan ada blogger yang mengatakan kalau donasi  untuk ibu itu adalah kebodohan. Beliau menyamakan dengan kasus darsem TKI. Alhasil itulah salah satu artikel yang membuat saya gatel untuk menulis opini saya ini.
Gini loh ya, si mas pengajak donasi itu pasti gak akan nyangka kalau ajakannya itu akan menjadi viral dan mencapai ratusan juta rupiah dalam waktu beberapa hari, mungkin awalnya si mas pengajak donasi hanya ingin melakukan aksi nyata kepeduliannya kepada si ibu penjual nasi untuk mengembalikan modal dagangannya yang telah dirampas paksa oleh satpol pp dan sekedar membantu untuk THR si ibu penjual nasi. Dan ternyata semua diluar dugaan, ya itulah kekuatan sosial media jika telah menjadi viral. Beda dengan kasus darsem TKI yang memang ada target nominalnya karena untuk membayar pembebasannya kala itu.
Kalau menurut saya sah-sah saja siapapun yang melakukan donasi, toh donasi itu kan tanpa paksaan dan yang pasti pemberinya ikhlas dan sukarela memberikan donasi.
Lanjut masalah toleransi, kalau saya pribadi ya kalau memang saya sudah niat berpuasa ya gak akan tergoda kalau cuma melihat orang makan nasi bungkus, apalagi kalau yang makan itu diwarung atau dirumahnya ya bukan dipinggir jalan juga. Dan keberadaan ibu ini juga masih dibutuhkan bagi teman yang tidak menjalankan ibadah puasa atau buat wanita yang berhalangan sedang tidak berpuasa. Saya yakin kok mereka pasti makan juga gak seenaknya didepan kita yang berpuasa ini.
Jadi siapa yang salah?
Untuk kasus si ibu penjual nasi ini, saya sendiri belum berani beropini menentukan mana yang benar mana yang salah.
Kalau dari sisi si ibu penjual, katanya melenggar perda kota Serang tentang larangan berjualan makanan disiang hari di bulan Ramadan. Tapi ya kita sama-sama tahu kalau ini satu-satunya mata pencaharian si ibu. Menjelang hari raya apalagi pasti si ibu juga ingin membelikan baju buat anak-anaknya kan. Nah darimana si ibu dapet uang kalau bukan dati berjualan. Kalau kita pegawai kan punya THR atau gaji ke 13, nah kalau beliau?
Dari sisi petugas satpol PP, Mungkin banyak yang emosi liat petugas yang menertibkan warung si Ibu ini, tapi mereka kan bekerja sesuai perintah atasan dan ada perdanya.
Dari sisi pemerintah daerah, perda tersebut katanya sudah ada sejak tahun 2010, jadi memang sudah lama, yaitu periode pemerintahan yang lalu sudah ada. Dan perda pasti sudah disetujui pemerintah pusat kan pastinya.
Dari sisi Pemerintah Pusat, Tahun 2010 berarti sudah pemerintah terdahulu yang menyetujui dong, jadi ngakak saja kalau ada yang menyalahkan pemerintah pusat yang sekarang. Pemerintah pusat terdahulu pasti sudah melalui pertimbangan yang matang dong ya dalam hal persetujuan perda tersebut.
So, kalau opini saya sih ini seperti miss communication saja.
Seharusnya bapak - bapak petugas satpol PP dalam menertibkan seharusnya lebih pakai hati nurani lagi, tolong diperhalus jangan kasar terlebih hanya menertibkan wanita tua yang tak berdaya. Mungkin kalau cara para bapak petugas gak "over" seperti di video itu pasti si ibu gak akan sesedih itu. Dan mungkin netizen dan masyarakat gak akan semarah ini ke bapak petugas.
Tetapi memang dalam suatu kejadian pasti akan ada hikmahnya, semoga kita bisa lebih bijak dan memakai hati nurani dalam bertindak dan beropini.
Sekian opini saya, yang gak sependapat gak usah baper yes, just intermezo aja :).

10 komentar:

  1. Haha tadinya saya juga mau nulis tentang ini, Teh. Pemikiran teteh sama persis kaya saya. Yang paling saya sesalkan itu bukan hukumnya atau keputusannya, tapi CARANYA. Harusnya petugas lebih lembut dan beretika lah, lagian si ibunya juga udah tua, harus lebih dihormati. Ini mah malah dibentak, udah gitu keroyokan pula razia nya.

    Haha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bener emang caranya yang kurang tepat, habis gatel ni tangan pengen ngetik soalnya heran aja masih aja ada yg nyinyirin nyalah-nyalahin si ibu yang jualan

      Hapus
  2. Iya benar, ga tega sekali melihat masakannya ibu disita, trus untuk apa makanannya sampai disita, kan berarti modalnya diambil :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyah mba, sampai-sampai si ibu itu sakit gegara dagangannya diambil paksa, nah itu dipikiran saya, itu makanannya mau buat apa ?

      Hapus
  3. Aku dari kecil selalu diajarin kita hidup di negara pancasila, toleransi itu penting.
    Lagipula kita puasa senin kamis juga ga sampe harus nutup jalan rejeki orang kan.
    Aku kesel banget pas tau video itu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Linda, saya juga sedih liat video nya :(

      Hapus
  4. Menarik nih artikelnya. Ada beneranya mengkaji suatu hal dengan melihat berbagi sisi. Biar gak baper dan terframing hanya pada satu opini saja :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih banyak Mba Arinta, iya mba setuju harus lebih bijak dalam beropini terutama, biar tak ada baper Diantara si komentator dan para pembaca :D

      Hapus
  5. Mbak ini postingannya ga pake spasi paragrap?
    Hihihi
    Btw, sosmed itu kadang setajam silet dan belum tentu kita tau keseluruhan cerita. Jd aku mah males komen dan share ttg berita2 yg lg happening di sosmed. Hihihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. ini aku ngetik kemaren pake HP mba, wakakakaka lah aku gak sadar kalo mba Ratu gak komen ini hihihihi...
      Hahaha aku perlahan mulai mengurangi sosmed mba biar gak kebawa baper.

      Hapus